Ernest Prakasa: Buku Sebagai Bentuk Perlawanan dan Investasi Jangka Panjang

Tim Parapuan - Sabtu, 30 Agustus 2025
Ernest Prakasa dalam Konferensi Pers Pesta Literasi Indonesia 2025 (28/8)
Ernest Prakasa dalam Konferensi Pers Pesta Literasi Indonesia 2025 (28/8) Putri Renata

Parapuan.co - Buku bagi Ernest Prakasa bukan sekadar kumpulan kata yang dicetak. Lebih dari itu, ia melihat buku sebagai bentuk perlawanan terhadap kebodohan yang sering kali dipelihara oleh sistem. 

Kesadaran ini lahir dari pengalaman pribadinya. Ernest mengaku, sebuah buku dengan judul yang begitu menyentil pernah membuka matanya tentang pentingnya membagikan pengalaman membaca.

Sejak saat itu, ia tidak lagi merasa cukup hanya menjadi penikmat buku. Ada dorongan kuat untuk menularkan semangat membaca kepada lebih banyak orang. "Gimana cara saya mengacu 'review buku yuk' gitu," ungkapnya dalam acara konferensi pers Pesta Literasi Indonesia (28/8) yang dihadiri PARAPUAN.

Ernest sendiri tidak menargetkan dirinya sebagai kritikus sastra, melainkan sekadar pembaca yang ingin berbagi kesan. Ia sengaja memilih banyak karya fiksi, dengan alasan fiksi lebih mudah mengikat emosi pembaca. Menurutnya, jalan masuk yang ringan itu penting agar minat membaca tidak mati di awal.

Mengajak Membaca Buku Lewat Giveaway

Sebagai langkah awal, Ernest rutin membagikan postingan review buku di akun Instagram pribadinya. Dari sanalah lahir sebuah inisiatif yang lebih serius. Sejak Maret, Ernest menjalankan program Tiga Buku di Tanggal Satu, yaitu giveaway rutin yang dilakukannya tiap bulan.

Melalui program ini, ia mengkurasi tiga judul dan memberikan kesempatan bagi pengikutnya untuk memilih buku yang mereka inginkan. Ernest lalu mengirimkan buku itu secara langsung, sebagai hadiah yang sekaligus ajakan untuk memulai kebiasaan membaca.

Seiring waktu, program itu mendapat dukungan Gramedia Jalma, yang menambahkan voucher belanja sebagai hadiah. Baginya, dukungan tersebut bukan sekadar soal materi, melainkan bentuk validasi bahwa gerakan literasi memang penting dan layak diperluas.

Meski begitu, Ernest tidak menutup mata terhadap kenyataan pahit dunia literasi Indonesia. Tetapi melalui pengalaman pribadi, Ernest justru menunjukkan sisi lain yang lebih optimistis.

Baca Juga: Bagaimana Cara agar Anak Tidak Cepat Bosan Ketika Membaca Buku?

Penulis:
Editor: Citra Narada Putri