Community

Ruang Cerita

Ruang untukmu bebas bercerita dan mengekspresikan apa pun yang dirasakan. Tempat saling memberi dukungan dan rasa aman. Syarat dan Ketentuan

Cek CERITAKU secara berkala untuk melihat riwayat cerita, balasan, dan dukungan.
Good Vibes Only

Audrey GelmaHelena -

Minggu, 14 Agustus 2022

Mau Pakai Baju Seperti Mama ===================== Nonton drama paling suka sama setingan latarnya. Apalagi kalau setingan kerajaan. Baju yang dipakai indah banget. Dengan panjang menyentuh lantai anggun melihat para putri bangsawan. Begitulah kalau dasarnya tukang jahit, senang lihat kain cantik, apalagi kalau dipadu padankan. Pintar yang buat desain baju itu. Kepengen jahit sudah ada di hati. Tetapi pilihan waktu masih belum ditentukan. Mau ambil waktu kapan yaa ... si cantik di rumah pengen baju panjang. Hari ini mau jahit, tetapi mundur, karena kamar yang dipakai untuk tempat jahit lagi dibersihkan. Yang punya kamar besok mau datang. Ya, saudara lelaki saya. Kamarnya kosong, dan tidak ditempati kecuali lagi berlibur saja di Bandung. Akhirnya keinginan menjahit jadi batal deh. Alhasil, si kecil pakai baju hamil saya yang panjangnya sampai lantai. Buat mesem aja, karena kedodoran bagian atas. Bayangin baju hamil dipakai anak umur 13 tahun yang berbadan kecil. Eksperimen Anak Remaja ----------------------- Beberapa hari ini, ananda pengin baju panjang dengan bahan ringan. "Ada baju yang warnanya putih, Ma?" Sedikit kebingungan sih. Yang dimaksudkan baju warna putih, kepikirannya tentu baju pengantin hehehe. Ternyata yang dimaksud warna putih itu, seperti warna broken white menjurus ke coklat muda alias warna blacu apa blatju? Bikin geli saja. Baju yang dimaksudkan ternyata baju hamil yang panjangnya sampai lantai. kalau lagi hamil baju itu terangkat. Sedangkan perut rata, bayangin aja hahaha bisa keinjak kaki kalau lagi jalan. Sedikit ribet juga kalau pakai baju kesukaaan waktu hamil. kalau naik tangga harus ektra diikat kepinggang karena bisa kesandung dan jatuh di tangga. Beruntung ada ikatan di pinggang yang bisa diakalalin untuk melipat baju masuk di pinggang. Kebayang enggak, lol. Memperhatikan Jangan Dihakimi ------------------------------ Mau melarang, entar pundung. Mama pelit katanya. ya sudah saya biarkan saja. Maunya apa ananda cantik mama ini. Dengan gedombrang ke sana kemari, sedikit geli juga di hati. Jangan terlalu besar tertawanya entar ngambek ananda cantik hehehe. Saya perhatikan bagaimana di fit in kan memakai baju saya.Lebar leher yang besar, bergeser ke sana kemari. Saya bantu rapihkan saja. Alhasil seharian memakai baju gombrang. Kakaknya yang laki-laki tertawa melihat tingkah laku adik perempuannya. "Ade baju kebesaran!" Adiknya balas seruan kakaknya, "Biarin saja! "Kepanjangan bajunya tuh, Ma!" Sang kakak berseru kepada saya. "Yaya. Coba sini dibenerin dulu, De." Akhirnya saya bongkar dulu ikatan yang sudah disimpulkan oleh ananda. Ikat ulang dipinggang, kemudian panjang baju saya sisipkan di dalam tali pinggang. Jadi seperti untaian yang keluar dari tali pinggang. Padahal itu adalah kelebihan panjang baju. Sayang saya tidak mengambil foto, momen pada saat itu.Sudah kepikiran tetapi saya pikir nanti ada lagi. Ah, sayang keputusan yang tidak tepat saya ambil. Jadi momen terlewatkan. Like mother like daughter or like daughter like mother ------------------------------------------------ Anak perempuan seperti mamanya, mamanya seperti anaknya. Kalimat yang bisa dibolak balik saya pikir. Coba resapi sejenak. Kadang anak perempuan ingin seperti mamanya, sedangkan mama di usia tidak muda lagi kadang bergaya seperti remaja putri, heheh tidak mau menerima nasib kalau mama sudah tidak muda lagi. Hahaha itu saya bukan yang lain ya. Kecuali ada yang mirip sama saya. Berpikir lumayan irit enggak usah beli baju deh. Bisa diturunkan saja buat ananda yang perempuan. Zaman terus berputar. Penampilan busana pun kadang kembali ke zaman waktu muda. Tinggal dipadupadankan saja dengan model yang lain. Misalnya, dengan scarf, atau pasmina atau kalung bisa dibuat lebih chic dengan gaya kekinian. 'nd ---- Berusaha untuk mengerti sifat anak-anak, ketika mereka remaja. Karena saya pernah mengalami masa itu. Saya ingin mengeksplorasi keadaan diri saya. Ingin masuk ke dalam lingkungan anak seusia saya. Anak merasa ingin diperhatikan. Ingin temannya memperhatikan. Mencari penampilan pas, yang bisa diterima oleh lingkungan. Semoga bisa memberikan nasehat yang terbaik untuk anak remaja saya. Love, Audy Ceritadiri.com

Dijawab oleh

Admin Parapuan

How You See Me

L***** -

Sabtu, 13 Agustus 2022

Hallo kak... Saya perempuan yang baru menginjak usia 19 tahun di bulan Agustus ini. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Adik saya cowok, sekarang kelas 6 SD. Saya terlahir sebagai anak strict parents di keluarga saya. Saya ingin menceritakan perihal masa terberat saya beberapa bulan yang lalu, serta keluh kesah saya sebagai anak strict parents di keluarga. Latar belakang keluarga saya adalah lulusan pondok pesantren. Di rumah, saya lebih dekat dengan Ibu saya. Karena Ayah tipe orang yang sedikit tempramen, cuek, keras kepala dan sangat disiplin, terlebih perihal waktu dan juga pendidikan. Saya jarang ngobrol dengan Ayah, bahkan untuk meminta uang satu rupiah pun saya tidak berani saking takut dan tidak dekatnya. Saya adalah seorang Penulis. Kesibukan saya sekarang yaitu menggeluti dunia Literasi dan Sastra. Saya bergabung dengan beberapa Penerbit sebagai Penanggung Jawab event yang diselenggarakan. Selain itu, saya juga sering mengikuti event menulis. Saya adalah anak Strict Parents, bisa dibilang tipe akut. Harusnya, sekarang saya melanjutkan pendidikan saya di Kampus impian saya setelah lulus SMA. Sayangnya, kegagalan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi) memaksa saya untuk menunda langkah saya untuk melanjutkan kuliah. Setelah kegagalan itu, harusnya saya mengikuti jalur tes atau SBMPTN dan itulah salah satu jalan agar saya bisa melanjutkan pendidikan. Saya sekeluarga tidak mengharapkan lebih di jalur Mandiri, karena kita sadar perihal ekonomi. Tapi karena saat itu terkendala keuangan, dengan berat hati saya harus mengikhlaskan setahun waktu saya untuk melakukan aktivitas lain yang lebih bermanfaat selain kuliah. Sebetulnya, permasalahan ekonomi bukan suatu penghalang untuk melanjutkan pendidikan. Jika kita sudah meneguhkan tekad untuk terus melangkah, maka Tuhan pasti akan memberikan jalan. Prinsip itu yang selalu saya tanamkan. Bahkan ketika Ayah saya mengatakan ketidaksanggupannya, Ibu saya mencoba untuk meyakinkannya. Pada awal tahun 2022, Ayah saya memutuskan untuk membeli sepeda secara kredit. Sebulannya harus membayar sekitar 700 ribu untuk melunasi sepedanya selama kurang lebih tiga tahun-an. Kedatangan sepeda itulah yang membawa petaka bagi keberlangsungan hidup dan juga pendidikan saya. Menurut pendapat Ayah, sepeda Supra yang biasa dia pakai bekerja bertahun-tahun ini sudah tua dan rentan rusaknya, padahal masih bisa digunakan dengan baik. Maka dari itu, Dia memutuskan membeli sepeda Beat terbaru secara kredit. Sebelum Ayah saya membeli sepeda itu, Ibu saya berulang kali mengingatkan bahwa Anak pertamanya (saya) akan lulus dari SMA dan melanjutkan kuliahnya. Sehingga membutuhkan biaya yang lebih besar dari biasanya. Tapi, Ayah dan Ibu justru bertengkar hebat akibat perbedaan pendapat. Karena Ayah yang menggambil semua keputusan di rumah, dan dia tipe orang yang keras kepala. Jadi, apapun yang dia pikir benar harus terlaksana sesuai rencana. Akhirnya, Ibu memutuskan untuk diam. Saat itu, saya sudah memiliki firasat bahwa jika seandainya saya gagal SNMPTN yang notabenya pendaftarannya gratis, kemungkinan besar saya tidak akan melanjutkan mengikuti jalur SBMPTN yang berbayar, dengan alasan kredit sepeda. Pas hari H setelah pengumuman SNMPTN dan saya dinyatakan tidak lulus, malam harinya saya langsung rembukan dengan Ayah dan Ibu saya. Saya memberikan beberapa pilihan kepada orang tua saya. Pertama, jika mau lanjut di jalur berikutnya mungkin saya pindah kampus yang lebih dekat dan kemungkinan biayanya lebih terjangkau sekaligus di pondokkan, tapi jurusan yang sesuai dengan saya adalah Psikologi bukan tentang Sastra sesuai rencana. Karena sejak saya lulus SD, sebetulnya Ayah saya memaksa saya untuk mondok, tapi saya tidak mau. Pikiran saya saat itu asalkan saya di kuliahkan, mondok pun akan saya terima dengan lapang. Tapi, respon Ayah justru tidak enak dan semakin membuat mental saya down. "Akan jadi apa kamu, jika mengambil jurusan Psikologi? Ayah pengen kamu jadi Guru atau PNS", kalimat itulah yang akhirnya semakin meluruhkan semangat dan rasa percaya diri saya. Kedua, jika memang tidak melanjutkan kuliah, maka izinkan saya untuk bekerja selama setahun ini dan menggeluti bidang yang saya suka. Ayah dan Ibu saya adalah orang awam ketika berbicara perihal dunia kampus. Karena latar belakang pendidikan mereka lebih condong keagamaan (pondok pesantren) dan di keluarga besar saya hanya tante (adiknya Ibu) saya yang lulusan Sarjana. Orang tua saya nihil persoalan ilmu sekolah umum. Sehingga mereka mengganggap kuliah biayanya mahal. Saya tahu, pasti mahal. Tapi, berulang saya katakan saya akan mencari beasiswa dan bekerja selepas kuliah untuk meringankan beban orang tua saya. Tapi, perkataan saya seolah tidak dapat meyakinkan mereka. Bahkan ketika saya meminta tolong tante saya untuk menjelaskan soal kuliah, tetap tidak ada pergerakan dan cahaya terang untuk saya. Malam itu, Ayah saya mengatakan ketidaksanggupannya. Dan yah, dugaan saya benar bahwa alasannya adalah kredit sepeda. Posisi ruang tamu tempat kami berbicara gelap, tidak ada cahaya kecuali di teras rumah. Satu dua air mata saya menetes lagi, selepas menangis hebat karena ketidaklulusan saya di SNMPTN. Hening, saya kembali membuka suara dengan mengatakan, "Baik Ayah, tidak masalah jika saya harus menunda kuliah. Tapi, saya punya satu syarat untuk itu. Jika selama setahun kedepan ada yang berniat untuk meminang saya, tolong jangan diberikan dengan mudah sebelum saya menjadi seorang sarjana dan menggapai impian saya." Ayah mengiyakan, Ibu saya turut sedih dan mungkin terenyuh dengan kalimat terakhir yang saya katakan. Ketakutan saya dinikahkan di usia muda membuat saya enggan keluar rumah hingga sekarang. Bahkan masyarakat sekitar mengiranya saya mondok, nyatanya setiap hari saya pulang pergi dari rumah ke sekolah. Puncak dari kesadaran saya, mengapa Ayah saya yang notabenya ambis dalam pendidikan anaknya, tiba-tiba dengan mudah tidak menyetujui melanjutkan sekolah saya dengan alasan ekonomi keluarga. Ternyata memiliki alasan lain yang terselubung dalam hatinya. Dia terbiasa mengekang saya, menjaga saya dengan membatasi ruang gerak saya. Jika tiba-tiba anak perempuan yang diperlakukan strict parents olehnya merantau jauh, maka kecemasannya lebih besar dari hasratnya melihat saya menjadi seorang sarjana dengan pergi jauh di luar pengawasannya. Sejak kecil, orang tua saya selalu mentreatment saya seperti seorang 'Putri' yang sangat disayang orang tuanya. Bahkan saya pernah berada di posisi dimana, saya merasa bangga dan bersyukur telah dilahirkan di tengah-tengah mereka di saat banyak teman-teman saya yang terlantar dan broken home. Puncaknya, ketika saya duduk di bangku SMP akhir, saya merasa ruang gerak yang harusnya lebih luas malah semakin terbatas. Saya selalu dilarang ini itu ketika izin keluar main bersama teman. Jika ada teman cowok yang main ke rumah, orang tua saya terlebih Ayah saya selalu memberikan respon yang tidak enak. Padahal mereka hanya teman saya. Hingga saat itu, tidak ada teman yang berani mengajak saya keluar bahkan sudah tahu jika merencakan bermain dengan saya, jawaban saya akan tetap sama, TIDAK. Orang tua saya terlalu takut akan omongan tetangga. Padahal, tidak ada niatan buruk atau melakukan hal diluar batasan. Mereka hanya bertamu dan bermain dengan saya. Perlakuan seperti itu saya rasakan hingga detik ini. Bahkan ketika SMA saya bisa dibilang tidak memiliki teman, karena susah diajak keluar. Hanya satu dua orang yang kemungkinan memiliki nasib yang sama seperti saya, terlahir strict parent di keluarganya. Semasa tiga tahun di SMA, saya menghabiskan sebagian waktu saya dengan mengikuti berbagai event yang bersangkutan dengan seni, termasuk menulis. Dari situ lah, relasi saya semakin berkembang meski secara online. Dengan keseringan pulang sore karena harus latihan atau mengurusi persiaan perlombaan, bahkan maghrib baru sampai di rumah, saya menganggap kegiatan itu adalah cara saya bermain meskipun fisik dan mental saya merasa lelah. Saya sebagai anak perempuan pertama, harapan pertama keluarga saya, mental saya berulang kali tidak baik-baik saja. Tapi, saya dipaksa kuat oleh keadaan dan ribuan tuntutan dari lingkungan sekitar. Banyak orang yang menyayangkan saya tidak bisa melanjutkan kuliah. Terkadang saya ingin menyerah dan berhenti berjuang. Tiga tahun di SMA, saya sudah berusaha mempertahankan grafik nilai saya dan mengikuti berbagai event. Dengan memenangkan berbagai event, saya pikir pasti akan membantu saya untuk masuk di PTN (Perguruan Tinggi Negeri) impian saya lewat jalur SNMPTN, ternyata semua itu berujung luka. Tiga tahun terakhir ini, saya memiliki seorang cowok. Dia yang selalu mensuport saya, menjadi tempat saya berteduh, dia selalu ada untuk saya. Menemani saya dalam keadaan apapun. Awalnya hubungan kami berjalan secara diam-diam, karena dia memahami posisi saya. Dia selalu menerima keadaan saya dan tidak pernah mengeluh sedikit pun. Terkadang, untuk bertemu dengannya saya harus berbohong kepada orang tua saya. Karena saya tahu mereka tidak akan pernah mengijinkan saya keluar untuk bermain. Saya tahu batasan, tapi mereka seolah tidak memberikan kepercayaan itu kepada saya. Dari sinilah saya menyadari satu hal. Bahwa seorang anak juga membutuhkan ruang gerak yang bebas di bawah pengawasan orang tuanya. Bukan kekangan, terlebih mengatasnamakan rasa sayang. Melainkan pengontrolan diri pribadi seorang anak, tanpa menuntut banyak hal atau melarang semua pergerakan. Seorang anak juga memiliki kehidupan bukan melulu perihal keluarga, pendidikan dan masa depan. Melainkan ada banyak hal yang tiap ceritanya memiliki privasi tersendiri bagi seorang anak. Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan buruk jika seorang anak terlahir strict parent d keluarganya. Salah satunya, dia akan menjadi pribadi yang pendiam, tertutup, introvert, sering berbohong jika melakukan aktivitas yang dirasa salah oleh orang tuanya bahkan bisa jadi depresi. Sejak saya sadar bahwa saya anak strict parents. Saya menanamkan dalam hati saya, bahwa kelak ketika saya menjadi orang tua anak saya tidak boleh merasakan apa yang sara rasa. Saya harus menjadi orang tua yang terus mengikuti perkembangan zaman tanpa memegang teguh adat istiadat yang menyakitkan. Bukan berlagak menentang usia yang sudah tidak muda, tapi saya harus berusaha memahami perbedaan zaman di masa saya sekarang dengan masa anak-anak saya nanti. Agar saya dapat dengan memudah memahaminya. Semoga sepenggal cerita saya ini dapat menginspirasi. Baik bagi orang tua, atau seorang anak di rumah. Jangan dicontoh hal buruknya, ambil hikmah dari sisi baiknya. Sekian, terima kasih🙏😌🤗

Dijawab oleh

Admin Parapuan

How You See Me

N***** -

Sabtu, 13 Agustus 2022

Idealnya, setelah lulus kuliah harus langsung bekerja. Paradigma seperti itu sudah tertanam mengakar di tiap kepala. Namun, Tuhan memiliki rencana berbeda untukku. Menjadi perempuan anak rumah tangga adalah keseharianku saat ini. Sebagian mungkin akan bertanya heran: "Kenapa ga kerja?" atau "Kerja di mana?". Pertanyaan biasa saja untuk manusia lain, namun sangat sulit ku jawab secara lisan. Apalagi yang bertanya baru pertama jumpa. Tahun berjalan, aku merasa semakin sulit keluar dari jebakan perangkap ini. Terlebih saat kumpul keluarga. Momen paling pahit bagiku. Sebab sepupu bisa unjuk perolehan perah keringatnya selama ini, sedang aku menatap nanar bertanya kabar. Keluarga dekat tak kalah hebat beri tekanan. Terus sindir halus, seakan aku makhluk nir sakit hati. Kebal dan tak perlu hirau. Ya, memang bukan salah mereka. Aku saja yang berlarut membiarkan ini terjadi. Kalau boleh berandai-andai, mungkin saat dulu aku tak sumbu pendek memutuskan resign, aku masih diberi ruang dihormati sebagai manusia penuh. Tak seperti sekarang, dianggap ada saja sudah cukup. Baiklah, karena ini ruang aman untuk bercerita, maka aku akan gunakab dengan baik. Aku mau merunut kisah pahitku ini biar tiap-tiap yang membaca tak perlu lalui tahap gelap ini. 2017, menjadi akhir sekaligus awal aku memasuki dunia baru. Tanpa cita-cita jelas dan setelah kusadari memang aku tak pernah miliki cita-cita spesifik dari kecil membuatku menjadi tak tentu arah. Setelah selesai sidang, aku ambil jeda. 6 bulan lamanya. Tak lama aku menyandang semat 'pahlawan tanpa tanda jasa'. Sebuah pekerjaan yang sudah lama kuimpi-impikan. Nyatanya dikabulkan Tuhan. Senang? Tentu. Tapi, hanya berlangsung 70 hari. Setelah itu aku keluar. Alasannya sederhana: ego mdnguasai jiwaku. Dulu, aku masih merasa instansi yang salah. Makin dewasa, aku akui aku yang salah. Aku tak tahan banting. Ya, jiwaku rapuh. Sejak hari itu, aku sudah hatam pekerjaan rumah tangga dari bangun sampai melek mata. Bedanya aku belum menikah. Aku belum bekerja lagi pasca hari itu. Terhitung sudah 5 tahun. Angka yang cukup untuk lulusan strata 1 mulai rancang bangun kehidupan yang sukses. Jika timbul pertanyaan: "Apakah aku tidak mencari pekerjaan lagi?" atau "Apa aku tidak coba usaha?". Maka dengan sadar penuh aku menjawab: "Sudah, tapi belum ada yang berhasil." Dan, sekarang aku di sini. Terperangkap jebakan rasa takut memulai kembali, ga percaya diri dengan potensi yang dipunya, terkekang di bawah belai orangtua, ga bebas beri pendapat, dan hal-hal pengabaian lainnya. Perjalananku sudah cukup melelahkan, rasanya tak sanggup jika diceritakan semua. Tapi Tuhan Mahabaik, masih beri aku hidup sampai hari ini. Bahkan disaat aku belum bisa beri kontribusi apa-apa pada negeri. Lalu apa rencana selanjutnya? Aku mau bekerja dan aku akan bekerja. Aku percaya. Jika dulu niatku salah, maka sekarang niatku baru. Aku sudah tau apa yang aku tuju. Maka, menulis ini adalah upaya membebaskan diriku dari rasa bersalah menahun. Aku percaya, segera ada pekerjaan terbaik untuk diriku ini. Aku hanya sedang menjalani timeline ku. Berbeda mungkin dengan yang lain tapi aku belajar banyak hal. Walau sulit, aku belajar percaya ada sesuatu yang indah setelah ini. Doakan aku, beritahu aku jika ada tempat untukku bekerja lagi. Tidak sebagai guru, mungkin lainnya. Aku suka membaca, menulis, berceita. Aku pernah belajar ilmu ekonomi syariah. Haha, tak banyak yang ku ingat tapi ada satu dua yang ku paham sepertinya. Terima kasih sudah baca sejauh ini. Aku senang berada di ruang ini.

Dijawab oleh

Admin Parapuan

Love Yourself

I***** -

Sabtu, 13 Agustus 2022

Hai Namaku I***.. Umurku 35 tahun,, Aku Asli luar pulau tapi memilih tinggal di pulau Jawa karena awalnya aku kuliah kemudian kerja dan skrg Ibu rumah tangga. Aku ingin share untuk semua perempuan di luar sana yang merasa sendiri dan kesepian.. Yang Tidak memiliki tempat berkeluh kesah karena satu hal dan lainnya., Percayalah diri kalian kuat 💪 Dan kalian tidak sendiri karena masih ada Tuhan. --- Kalimat diatas kudapatkan setelah kejadian yang menimpaku di Januari 2018. Bahwa kekuatan sesungguhnya ada dalam diri kalian sendiri 💪 Singkat cerita aku tdk memiliki keluarga di pulau Jawa ini, ayah ku sudah tiada. Ibuku sakit sakitan dan adikku masih single di usianya ke-30 (mereka tinggal di luar pulau) aku tidak berani berkisah dengan mereka karena takut memperburuk kondisi kesehatan mama dan takut adikku anti pernikahan. Aku tidak berkisah dengan kawan karena masalah rumah tangga haruslah ditutup rapat dari orang luar. *itulah prinsipku* ___ Januari 2018 beberapa orang dari pihak keluarga suami mendesak agar suamiku menceraikanku / menikah lagi karena 12 tahun pernikahan kami tak kunjung memiliki anak. Segala upaya telah kami tempuh sampai proses bayi tabung tapi tak kunjung berhasil. Tentu saja cara termudah adalah menyingkirkanku dan mengganti dengan wanita lain (begitu pikir om, tante dan beberapa sepupu suami) Suamiku sempat terpengaruh dan melakukan kekerasan fisik padaku karena pertengkaran demi pertengkaran kami lewati tapi tidak sampai mendua / memiliki wanita lain. Selama proses itu aku selalu berdoa dan menangis di atas sajadah, bahkan Aku sempet berpikir untuk melakukan suicide bag karena tak kuat dengan kondisi ini . *aku lelah* __ Tapi Tuhan menolongku.. Tuhan menjawab doa doaku.. Satu persatu mereka yang menyakitiku tanpa mampu aku lawan menerima azab dari Tuhan, mulai dari kehilangan mobil sampai keguguran. Bukanya aku mensyukuri kemalangan mereka. Tp inilah tanda Tuhan maha pelindung dari kedzoliman manusia kepada manusia lain. Suamiku pun perlahan-lahan kembali *normal* entah kenapa saat Januari 2018 itu sikap suamiku berubah 180° seperti di guna-guna oleh keluarganya yang terkenal klenik untuk meninggalkan ku. ___ Badai Rumah tanggaku sudah berlalu, tapi hal ini membuatku waspada dan mawas diri.. Aku mereview kenapa "mereka" memperlakukan ku seperti itu selain karena aku belum bisa memberikan seorang anak. Dan jawabannya adalah : (1) ayahku sudah meninggal dan ibuku sakit-sakitan jadi aku tidak memiliki pelindung (2) Aku tidak memiliki penghasilan dan bergantung secara finansial kepada suami. Dari kisah ini benarlah bahwa seorang perempuan sebaiknya memiliki penghasilan sendiri.. Aku memang lulusan sebuah universitas di Jawa Timur tp Jurusan yang kupilih bukanlah sesuai keinginanku melainkan ayahku. Skrg aku mengejar cita-citaku kembali dan kuliah lagi di jurusan yang aku inginkan. Aku sudah memiliki planning jangka panjang dan menabung sedikit demi sedikit untuk ujian profesi dan biaya lainnya.. Skrg aku sudah semester 6. Satu setengah tahun lagi aku lulus.. Masih banyak rintangan yang harus aku hadapi tapi setidaknya aku memiliki alasan setiap harinya untuk bangun dan semangat dalam mencapai masa depan. --- Untuk semua perempuan diluar sana.. Ingatlah satu hal bahwa kalian berharga!! Seburuk apapun orang sekitar memperlakukan kalian.. Tegar dan kuatkanlah diri kalian agar bisa keluar dari situasi yang menyakitkan itu. Jadikan rasa sakit dari penderitaanmu sebagai bahan bakar semangat untuk hal positif dan baik di masa depan. Love Your Self!!!!

Dijawab oleh

Admin Parapuan

A***** -

Jumat, 12 Agustus 2022

Kadang ngerasa kenapa ya, aku udah baik ke mereka tapi ko mereka feedback nya malah biasa aja, malah kadang bikin sakit hati, hehe gapapa buat pelajaran, jangan terlalu berkespetasi tinggi pada manusia, dan terus berbuat baik walaupun kamu tidak diperlakukan dengan baik, dan kalau ditanya aku punya sahabat atau engga, mungkin definisi sahabat menurut aku cuma anabulku a.k.a kucing ku, dan ya mungkin juga cuma mamahku untuk sekarang ini, tapi ga pernah lupa kalo aku punya Allah yang ga bakal ninggalin dan selalu ada kapanpun dan dimanapun, karena sekarang aku juga lagi nikmatin banget yang namanya the power of doa, itu bener bener berpengaruh banget di aku, buat selalu bersyukur dan nikmatin prosesnya. Dan ya, aku juga sebagai satu-satunya harapan besar di keluarga, jujur agak beban, tapi ga bisa, aku ga bisa mikir kaya gitu terus, aku harus semangat, karena banyak banget orang yang yang ada dibelakang aku buat sampai aku yang sekarang, terutama kedua orang tua ku, yang tiap masa pembayaran uang kuliah selalu pontang panting gali lubang tutup lubang buat aku biar terus bisa dapetin gelar sarjana ku, yang dimana harusnya tahun ini aku lulus tapi karena kesalahanku sendiri juga, yang dimana maksudku ingin tiap kuliah ga mau memberatkan uang jajan nya lagi, karena bayaran kuliah ku aja udah bikin pusing, di mana aku harus cuti 2 smt. karena cidera di pinggangku, tapi gapapa berproses lambat bukan berarti aku ga bisa lulus, kita sama-sama nikmati prosesnya dan berusaha berjuang lalu pasrahkan semuanya, aku harus terus berjuang demi semua yang udah dikorbankan, dan bisa wujudkan impian kedua orang tua ku, di mana mamahku juga selalu bilang mamah ga warisin harta, tapi mamah warisin kamu ilmu. Terima kasih banyak buat ayah dan mamahku sehat terus ya kalian, doakan anakmu ini supaya bisa lulus dan wisuda tahun depan, dan kita bisa foto lagi di depan icon kampusku seperti waktu aku maba, AAMIIN Terima kasih juga untuk parapuan ruang untuk aku bisa berkeluh kesah❤

Dijawab oleh

Admin Parapuan

How You See Me

S***** -

Kamis, 11 Agustus 2022

Trauma ku diwaktu kecil sampai saat ini masih ada di sudut ruang ingatanku. Tidak bisa hilang begitu saja. Sekuat apapun aku melupakannya, akan selalu ada trauma itu. Ya, trauma yang dibuat oleh orang yang sangat-sangat aku percayai, yang membuat aku sangat bergantung padanya. Karena tidak ada orang lain yang bisa aku percaya selain dia. Orang itu adalah ibuku, ya ibuku melakukan kesalahan yang bagiku sangat amat fatal. Ia berselingkuh. Memang pada saat itu ekonomi keluarga dititik terendah, ayahku harus keluar negeri berjualan dan aku beserta ibu harus hidup dikampung. 6 bulan sekali baru kembali ke indonesia. Sedangkan kakak-kakak ku dititipkan ke adik-adik ibuku yang berada di kota. Jadi tidak ada orang lain yang aku percaya dan bergantung. Didalam pikiranku, sosok ibu yang baik, ibu yang setia pada suaminya seketika itu langsung hancur lebur oleh tindakan ibuku. Bahkan pria itu tidak segan-segannya menjemputku di sekolah TK ku, lalu mengajak pergi jalan-jalan. Aku tidak bisa menolak. Karena aku masih terlalu kecil pada saat itu. Meskipun pada saat itu aku masih kecil, tapi aku tahu apa yang dilakukan oleh ibuku adalah hal yang salah. Saat aku menanyakan bahwa siapa sosok laki-laki selingkuhan ibu, ibu menjawab dengan entengnya bahwa itu teman ayahku. Tidak ada rasa bersalah yang ia perbuat kepadaku. Bahwa dia melukai perasaanku hingga sampai saat ini yang membuat aku tidak bisa mempercayai orang lain, yang membuat aku skeptis kepada siapapun. Aku hanya ingin pengakuannya saja dan meminta maaf kepadaku. Itu saja.

Dijawab oleh

Admin Parapuan

How You See Me

A***** -

Kamis, 11 Agustus 2022

Hallo semua, perkenalkan aku Ibu rumah tangga 31 tahun. Sehari-hari disibukkan dengan mengurus rumah dan anak-anak. Jenuh sesekali menghampiri, apalagi melihat teman-teman seperjuangan yang diantara peranannya menjadi orang tua juga masih bisa berkarier dibindangnya masing-masing. Kadang muncul rasa insecure, kalau sahabat lagi ngobrolin pekerjaan dan polemiknya aku hanya menjadi silent reader saja. Ada saatnya mereka juga menemukan circle baru dikerjaan yang membuat mereka berubah atau tidak lagi responsif seperti dulu. Disaat-saat seperti itu kadang membuat kita kecewa. Apalagi diusia yang semakin dewasa dengan banyak hal yang dipikirkan membuat kita tidak dengan mudah membuat pertemanan baru dan menjadikan kita pribadi yang tidak mudah percaya dengan orang. Terlepas dari hanya sekedar curhat dengan teman, rasanya menjadapatkan respon baik entah masukan atau sekedar kritikan yang membangun rasanya menajdi kebutuhan bagi ibu-ibu rumah tangga. Ingin didengar, atau mempunyai teman dengan kisah yang mirip yang membuat kita merasa oh ternyata aku nggak sendiri. Namun lagi-lagi bahwasanya hidup ini adalah proses belajar yang tiada henti, kuharap kalian yang memiliki perasaan yang sama saat teman-teman terdekatmu dulu kini berasa menjadi orang asing, atau mereka dengan sengaja mengambil jarak denganmu, atau mereka bertemu dengan orang-orang baru yang membuat mereka jauh lebih nyaman, jangan merasa kecewa terlalu lama. Justru buat dirimu sibuk dengan sesuatu yang baru yang bisa menyita waktumu. Banyak hal bisa kita pelajari disaat kemudahan teknologi merajai bumi hehehe... Mengupgrade diri sebisa kita. Dan sesekali memandang kaca untuk menghargai diri bahwa kita ini berharga dan layak untuk dihargai. Manusia akan datang dan pergi sillih berganti, semoga dengan mengupgrade diri kita bisa dipertemukan dengan orang-orang baik yang mmebuat diri kita semakin baik dan berkembang. Tiada alasan untuk tidak berkembang, habisi rasa malas dan insecure kita. Salah satu media kita untuk berkembang dan bisa bersuara walaupun kita "Bukan Siapa-Siapa" ya di Parapuan inilah. Semoga apa yang kita bagi menjadi suatu hal berharga juga untuk yang lainnya :).

Dijawab oleh

Admin Parapuan

More