“Setiap kali saya bikin review buku, komentar itu selalu ramai. Banyak yang berbagi pengalaman, berdiskusi, saling rekomendasi. Itu artinya semangat membaca sebenarnya ada. Tinggal kita pupuk,” ujarnya.
Dari pengalamannya, Ernest yakin bahwa benih minat baca tidak pernah benar-benar hilang, hanya perlu ruang untuk tumbuh.
Ia pun mengapresiasi inisiatif komunitas literasi yang melakukan kegiatan dari kota ke kota. Baginya, orang-orang di balik gerakan semacam ini tidak digerakkan oleh orientasi bisnis, melainkan oleh cinta. Cinta terhadap buku, ilmu pengetahuan, sekaligus pada masa depan masyarakat yang lebih kritis.
Ernest kemudian menekankan betapa pentingnya literasi dalam membentuk cara pandang hidup. Menurutnya, buku adalah sarana yang mampu memberi kedalaman pemahaman, bukan sekadar informasi permukaan.
Literasi juga melatih kemampuan berpikir kritis yang menjadi fondasi bagi masyarakat yang sehat.
Minat Membaca di Tengah Gempuran Intenet
Di tengah arus digitalisasi, Ernest tidak mengenyampingkan manfaat internet dan YouTube. Tetapi, Ernest menilai jika konten digital hanya memberikan pemahaman tipis. “Kalau pengin tahu kulit-kulitnya saja, silakan cari di internet. Tapi kalau mau mendalam, tetap buku jawabannya,” tegasnya.
Pengalaman transisi kariernya memperkuat keyakinan itu. Dari stand-up comedy ke penulisan skenario film, Ernest merasakan betul kebutuhan akan literatur yang berkualitas. Penulisan skenario membutuhkan struktur dan teknik yang tidak bisa dipelajari secara instan. Semua itu ia peroleh dari buku-buku yang mendalami bidang tersebut.
Baginya, inilah nilai lebih buku yaitu kedalaman dan keseriusan yang lahir dari pengalaman panjang penulisnya. Konten digital, sebaik apa pun, sering kali hanya rangkuman dari banyak sumber, tanpa menawarkan analisis menyeluruh. Sedangkan buku memberikan kesempatan untuk mendalaminya.
Karena itu, ia menyebut membaca sebagai investasi jangka panjang. Membaca tidak menawarkan hasil instan, tetapi dampaknya terasa dalam jangka panjang. Terutama pada masyarakat yang lebih kritis, mandiri, dan sulit dimanipulasi. “Kalau kita terbiasa membaca, kita jadi lebih sulit ditipu,” ujarnya.
Ernest juga mengingatkan agar kebiasaan membaca tidak berhenti pada satu buku saja. Menurutnya, setiap buku adalah pintu menuju buku lain. Bacaan pertama akan menuntun ke bacaan berikutnya, membentuk rangkaian pengetahuan yang terus berkembang. Literasi sejati adalah proses berkelanjutan.
Di tengah gempuran informasi instan yang semakin deras, Ernest tetap yakin buku tidak akan pernah tergantikan. “Buku itu perlawanan. Lewat buku kita menjaga akal sehat di tengah banjir informasi,” tandasnya.
Di akhir acara, Ernest Prakasa tetap menggarisbawahi mencintai buku berarti mencintai kebebasan berpikir. Dan literasi adalah benteng agar masyarakat tidak mudah diperdaya.
Baca Juga: Studi Ini Catat Gen Z Tak Gemar Membacakan Buku untuk Anak, Pahami Alasannya
(*)
Putri Renata