Sudah Banyak Uang Tapi Masih Korupsi, Mentalitas Rakus di Balik Kekayaan Pejabat

Saras Bening Sumunar - Sabtu, 30 Agustus 2025
Pejabat korupsi, mentalitas rakus di balik kekayaan.
Pejabat korupsi, mentalitas rakus di balik kekayaan. Istockphoto

Ironinya, semakin tinggi jabatan, semakin besar pula godaan, dan tanpa integritas yang kuat, kekuasaan justru memupuk kerakusan. Fenomena ini menjadikan sebagian pejabat seperti manusia tak pernah kenyang, di mana rasa puas digantikan oleh obsesi untuk memiliki lebih banyak, meskipun dengan cara melanggar hukum.

Lingkungan yang Menormalisasikan Korupsi

Bukan hanya soal faktor internal atau pribadi, penulis juga menilai bahwa korupsi terjadi karena lingkungan yang memang menormalisasikan korupsi. Ketika suatu organisasi atau komunitas sudah terbiasa dengan praktik suap, gratifikasi, atau pungli, tindakan itu tidak lagi dianggap salah tapi dianggap sebagai aturan main yang tidak tertulis.

Ketika seorang pejabat baru masuk ke dalam sistem pemerintahan, ia akan berhadapan dengan budaya kerja yang sudah lama terbentuk. Misalnya:

  • Setoran wajib untuk atasan dianggap hal biasa.
  • Penggunaan dana publik untuk kepentingan pribadi tidak lagi dianggap salah.
  • Kompensasi ilegal dibungkus dengan istilah uang terima kasih agar terdengar lebih sopan.

Ketika korupsi dianggap bagian dari sistem, maka pejabat yang awalnya idealis akan perlahan ikut terbawa arus. Lama-kelamaan, batas antara yang benar dan salah menjadi kabur, dan korupsi berubah menjadi sesuatu yang diterima secara sosial.

Danti Wulan Manunggal, psikolog, juga turut menyoroti faktor lingkungan ini. Ia mengatakan, "Orang tidak selalu merasa dirinya penjahat ketika melakukan korupsi. Ada mekanisme internal dan pengaruh lingkungan yang membuat mereka bisa membenarkan tindakannya," ujar Danti dikutip dari Kompas.

Korupsi yang dilakukan pejabat kaya bukan hanya persoalan kriminal, tetapi juga persoalan moral. Ketika rakyat melihat pejabatnya hidup mewah di atas penderitaan mereka, sedangkan proses hukum seolah tak berdaya, kepercayaan terhadap negara akan terkikis. 

Lebih parah lagi, dana publik yang seharusnya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dan pembangunan justru lenyap masuk kantong pribadi. Akibatnya, ketimpangan sosial makin lebar, kemiskinan sulit diberantas, dan kesenjangan antarwilayah semakin tajam.

Semua ini menjadi lingkaran setan yang sulit diputus jika pejabat terus memelihara budaya korupsi.

Baca Juga: Demo Pati 13 Agustus 'Seharusnya' Jadi Rambu Kuning Pejabat Negara

(*)

Sumber: psychology today,kompas
Penulis:
Editor: Citra Narada Putri