Bukan itu saja, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga meminta maaf atas peristiwa yang menimpa Affan Kurniawan. "Saya menyesali terhadap peristiwa yang terjadi dan mohon maaf sedalam-dalamnya," ujar Sigit dikutip dari Kompas.
Setelah mengetahui Affan Kurniawan berpulang, Listyo Sigit bahkan langsung megunjungi rumah duka. Pasha Ungu, yang juga seorang anggota DPR turut melayat ke rumah Affan Kurniawan.
Di sisi lain, penulis justru menyoroti bahwa setiap kali ada korban jiwa, pemerintah selalu muncul dengan wajah penuh duka, menyampaikan belasungkawa, berjanji akan melakukan penyelidikan, dan menegaskan bahwa tragedi ini adalah insiden yang tidak diinginkan.
Tetapi, sampai kapan rakyat harus menelan retorika kosong semacam itu? Rakyat tidak butuh belas kasihan yang hanya berhenti di bibir atau air mata palsu. Rakyat butuh keadilan yang nyata, keadilan menyentuh hati nurani dan memulihkan luka.
Kekhawatiran penulis pun muncul apabila pola lama kembali terulang, korban berjatuhan, janji-janji diucapkan, lalu sunyi. Tidak ada transparansi dalam penyelidikan, tidak ada akuntabilitas yang jelas, dan pelaku kekerasan seolah kebal hukum.
Seolah-olah nyawa rakyat hanya angka statistik, hanya catatan di meja birokrat yang bisa dilupakan begitu saja. Lebih ironis lagi, para pejabat negara masih sempat menampilkan citra heroik mereka di media, mengaku bersedih dan berdiri bersama rakyat.
Penulis menegaskan bahwa saat ini rakyat tidak sedang meminta dikasihani. Rakyat hanya meminta satu hal sederhana, keadilan
Demo 28 Agustus adalah cermin bahwa krisis bukan hanya soal kebijakan, tetapi soal kepercayaan. Rakyat semakin kehilangan keyakinan pada sistem yang seharusnya melindungi mereka. Jika negara terus gagal memastikan akuntabilitas, maka kemarahan publik akan terus tumbuh, dan siklus protes serta korban jiwa akan terus berulang.
Kini, bola ada di tangan penguasa. Apakah kamu mau membuktikan bahwa negara ini masih berpihak pada rakyat, ataukah kamu akan terus memilih menjadi penonton bisu yang menyaksikan demokrasi sekarat di pelupuk mata?
Baca Juga: Demo Pati 13 Agustus 'Seharusnya' Jadi Rambu Kuning Pejabat Negara
(*)