Demo 28 Agustus Telan Korban Jiwa, Rakyat Tak Butuh Belas Kasih Tetapi Keadilan

Saras Bening Sumunar - Jumat, 29 Agustus 2025
Demo 28 Agustus 2025.
Demo 28 Agustus 2025. Istockphoto

Parapuan.co - Tragedi demo 28 Agustus bukan sekadar catatan kelam dalam kalender politik negeri ini, melainkan simbol kegagalan negara dalam melindungi rakyatnya. Setiap teriakan di jalanan adalah wujud keputusasaan yang menumpuk bertahun-tahun. Setiap tubuh yang jatuh menjadi bukti nyata bahwa demokrasi di negeri ini semakin jauh dari kata berpihak pada rakyat.

Kamu mungkin pernah mendengar bahwa suara rakyat adalah yang utama, tapi kenyataannya, suara rakyat justru kerap dipatahkan dengan gas air mata, pukulan, peluru, hingga penindasan disengaja.

Ratusan bahkan ribuan orang tumpah ruah di jalan, menuntut perubahan, menolak kebijakan yang dianggap menindas, dan berteriak agar hak-hak mereka didengar. Namun, yang mereka terima bukanlah ruang dialog, melainkan kekerasan dan bungkaman.

Aparat keamanan yang seharusnya berdiri sebagai pelindung rakyat justru menjadi bayang-bayang ketakutan, mempertegas jarak yang semakin lebar antara penguasa dan masyarakat.

Affan Kurniawan (21), seorang pengemudi ojek online tewas setelah tertindas kendaraan taktis (rantis) Brimob. Dalam video yang viral di TikTok, terekam jelas Affan Kurniawan yang mencoba menghindar namun kendaraan tersebut tetap nekat melaju hingga korban terseret beberapa meter.

Massa yang marah kemudian mengejar dan memukuli rantis Brimob sementara mobil tersebut tetap melaju kencang. Mirisnya, Affan Kurniawan rupanya tak ikut aksi unjuk rasa, saat itu ia sedang menyeberang untuk mengantarkan orderan.

Terkait pembunuhan yang dialami oleh Affan Kurniawan, Kadiv Propam Polri Irjen Pol Abdul Karim menyebut tujuh polisi tengah menjalani pemeriksaan. "Jadi saat ini tujuh orang tersebut sudah diamankan dan dilakukan pemeriksaan," ujar Abdul Karim dikutip dari Kompas.

Adapun ketujuh polisi tersebut antara lain Kompol C, Aipda M, Bripka R, Briptu D, Bripda M, Baraka Y, dan Baraka J. Ketujuh polisi itu berada di dalam rantis Brimob ketika kejadian. Kepolisian kini mendalami siapa yang menyetir kendaraan tersebut.

Menjadi pertanyaan bagi penulis, mengapa ketujuh oknum ini justru namanya disamarkan? Apakah aparat benar-benar memberikan keadilan seadil-adilnya atau mengamankan ketujuh oknum ini dan mengadilinya dalam bentuk 'hanya formalitas'? 

Baca Juga: Demo 28 Agustus 2025, Bobroknya Aparat Negara dan Bungkamnya DPR

Bukan itu saja, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga meminta maaf atas peristiwa yang menimpa Affan Kurniawan. "Saya menyesali terhadap peristiwa yang terjadi dan mohon maaf sedalam-dalamnya," ujar Sigit dikutip dari Kompas.

Setelah mengetahui Affan Kurniawan berpulang, Listyo Sigit bahkan langsung megunjungi rumah duka. Pasha Ungu, yang juga seorang anggota DPR turut melayat ke rumah Affan Kurniawan.

Di sisi lain, penulis justru menyoroti bahwa setiap kali ada korban jiwa, pemerintah selalu muncul dengan wajah penuh duka, menyampaikan belasungkawa, berjanji akan melakukan penyelidikan, dan menegaskan bahwa tragedi ini adalah insiden yang tidak diinginkan.

Tetapi, sampai kapan rakyat harus menelan retorika kosong semacam itu? Rakyat tidak butuh belas kasihan yang hanya berhenti di bibir atau air mata palsu. Rakyat butuh keadilan yang nyata, keadilan menyentuh hati nurani dan memulihkan luka.

Kekhawatiran penulis pun muncul apabila pola lama kembali terulang, korban berjatuhan, janji-janji diucapkan, lalu sunyi. Tidak ada transparansi dalam penyelidikan, tidak ada akuntabilitas yang jelas, dan pelaku kekerasan seolah kebal hukum.

Seolah-olah nyawa rakyat hanya angka statistik, hanya catatan di meja birokrat yang bisa dilupakan begitu saja. Lebih ironis lagi, para pejabat negara masih sempat menampilkan citra heroik mereka di media, mengaku bersedih dan berdiri bersama rakyat. 

Penulis menegaskan bahwa saat ini rakyat tidak sedang meminta dikasihani. Rakyat hanya meminta satu hal sederhana, keadilan

Demo 28 Agustus adalah cermin bahwa krisis bukan hanya soal kebijakan, tetapi soal kepercayaan. Rakyat semakin kehilangan keyakinan pada sistem yang seharusnya melindungi mereka. Jika negara terus gagal memastikan akuntabilitas, maka kemarahan publik akan terus tumbuh, dan siklus protes serta korban jiwa akan terus berulang.

Kini, bola ada di tangan penguasa. Apakah kamu mau membuktikan bahwa negara ini masih berpihak pada rakyat, ataukah kamu akan terus memilih menjadi penonton bisu yang menyaksikan demokrasi sekarat di pelupuk mata?

Baca Juga: Demo Pati 13 Agustus 'Seharusnya' Jadi Rambu Kuning Pejabat Negara

(*)

Sumber: kompas
Penulis:
Editor: Kinanti Nuke Mahardini