Koleksi PERTIWI: Persembahan untuk Ibu Pertiwi dalam Balutan Kebaya dan Beskap Kontemporer

Tim Parapuan - Sabtu, 30 Agustus 2025
SukkhaCitta meluncurkan koleksi terbaru bertajuk PERTIWI: A Modern Heritage Edit
SukkhaCitta meluncurkan koleksi terbaru bertajuk PERTIWI: A Modern Heritage Edit Putri Renata

 

Parapuan.co - Perjalanan sembilan tahun SukkhaCitta sebagai label berkelanjutan ditandai dengan peluncuran koleksi terbaru bertajuk PERTIWI: A Modern Heritage Edit (27/8). Koleksi ini menghadirkan reinterpretasi kebaya, beskap, serta kain tradisional melalui pendekatan kontemporer yang anggun sekaligus penuh makna.

Bukan hanya busana, PERTIWI dihadirkan sebagai persembahan bagi Ibu Pertiwi, simbol bumi dan perempuan yang menjaga kehidupan melalui tangan, suara, dan karya mereka. Dalam tradisi Indonesia, bumi kerap disebut dengan sebutan penuh kasih yakni Ibu Pertiwi.

Sebutan ini bukan sekadar kiasan, melainkan perwujudan nyata akan hubungan manusia dengan alam. Ia hadir dalam aroma tanah, dalam hasil panen, hingga dalam benang-benang yang dipintal oleh perempuan di desa-desa. SukkhaCitta mencoba menghadirkan kembali ikatan ini melalui setiap potongan dalam koleksi PERTIWI.

“Bagi kami, perempuan yang menanam, mewarnai, dan menenun bukan hanya bagian dari proses produksi. Mereka adalah nadi yang menghidupkan regenerasi. PERTIWI adalah cara kami menghormati mereka sebagai penjaga kesinambungan,” ujar Denica Riadini-Flesch, Founder dan CEO SukkhaCitta. Dengan pernyataan ini, ia menekankan pentingnya menghubungkan busana dengan kisah manusia di baliknya.

Kebaya dan Beskap dalam Sentuhan Modern Heritage

Menggandeng Anastasia Setiobudi sebagai Creative Director, koleksi ini dirancang untuk menjadi dialog hening antara tradisi dan transformasi. Kebaya, beskap, dan kain yang biasanya dianggap sebagai busana seremoni, kini dihadirkan dengan potongan modern yang dapat dipakai sehari-hari. Ada lapisan puitis dalam setiap siluet, menghadirkan keanggunan tanpa kehilangan kedekatan dengan akar budaya.

PERTIWI Kebaya
PERTIWI Kebaya

Kebaya dari koleksi PERTIWI tampil sebagai sorotan utama dengan struktur baru yang dirancang dapat digunakan dalam tiga bentuk pemakaian. Pilihan warna yang dihadirkan pun sarat filosofi, seperti ThreeBark Red melambangkan tumbuh kembang, sementara Nature White mengingatkan pada permulaan. 

Selain itu, hadir pula Kebaya Vest, sebuah karya yang menghadirkan kebaya sebagai busana ritual harian. Dengan bordir halus dan jahitan yang presisi, ia menghadirkan aura elegan namun tetap praktis untuk dikenakan di berbagai suasana. Busana ini menjadi bukti bagaimana tradisi dapat disesuaikan dengan kebutuhan modern tanpa kehilangan makna aslinya.

Baca Juga: SukkhaCitta Gelar Eksibisi, Isu Lingkungan dan Pemberdayaan Perempuan Jadi Fokus Utama

Koleksi Pagi Sore dan Anyam Kain juga menjadi bagian penting dari PERTIWI. Kedua kain multifungsi ini memiliki drape yang mengalir anggun, memungkinkan pemakainya berkreasi dengan berbagai gaya. Dari gaya klasik hingga kontemporer, kain-kain ini dirancang agar mampu mengikuti dinamika kehidupan sehari-hari.

Light Beskap
Light Beskap

Tak ketinggalan, Beskap dan Light Beskap yang biasanya identik dengan formalitas dihadirkan ulang dengan nuansa baru. Bahkan, salah satunya sempat tampil di panggung dunia ketika dikenakan oleh Chris Martin, vokalis Coldplay. Kehadiran busana ini menegaskan bahwa warisan Nusantara mampu melampaui antar negara dan diapresiasi oleh audiens global.

Keunikan Koleksi PERTIWI

Keunikan koleksi PERTIWI tidak hanya terletak pada desainnya, tetapi juga pada material yang digunakan. Seluruh busana dibuat dari serat tanaman yang ditenun dengan teknik tradisional tanpa bantuan listrik maupun bahan kimia. Proses ini menunjukkan komitmen SukkhaCitta terhadap keberlanjutan dan regenerasi lingkungan. 

Pewarnaan alami menjadi bagian tak terpisahkan dari filosofi koleksi ini. Warna-warna yang lahir dari tanaman penyembuh seperti indigo, kayu secang, dan buah emas tidak hanya indah, tetapi juga sarat makna. Putih menggambarkan awal kehidupan, merah merepresentasikan pertumbuhan, sementara hitam menjadi simbol kekuatan yang mengakar.

“PERTIWI adalah bisikan lembut tentang perubahan,” ungkap Anastasia Setiobudi. “Kami ingin menunjukkan bahwa kelembutan bisa menjadi kekuatan, keanggunan dapat lahir dari kemudahan, dan keindahan sejati adalah rasa memiliki terhadap sesuatu yang kita kenakan,” tambahnya. 

Keistimewaan lain dari PERTIWI adalah setiap potongannya unik. Tidak ada dua busana yang benar-benar sama, karena setiap helai benang, setiap percampuran warna, hingga setiap “ketidaksempurnaan” menjadi tanda tangan alami dari proses tradisional. Hal ini membuat setiap pemakai merasakan pengalaman personal yang berbeda.

Baca Juga: Mengenal Denica Riadini-Flesch, CEO Bisnis Sustainable Fashion yang Dapat Awards dari Rolex

Memakai busana dari koleksi PERTIWI berarti membawa serta cerita. Ada jejak tangan perempuan yang menenun dengan sabar, ada aroma tanaman yang mewarnai serat, hingga ada napas alam yang menyatu dalam kain. Dengan demikian, busana ini bukan sekadar benda mati, tetapi perwujudan hubungan antara manusia dengan alam.

Sembilan tahun perjalanan membawa SukkhaCitta pada sebuah refleksi bahwa busana seharusnya tidak hanya berhenti sebagai mode. Koleksi ini ditawarkan sebagai ajakan untuk mengingat setiap potongan kain memiliki nilai, keterhubungan, dan warisan yang dilahirkan kembali untuk generasi sekarang.

“PERTIWI bukan sekadar busana,” tegas Denica. “Ia membawa ingatan leluhur, kekuatan perempuan, serta visi akan dunia yang lebih seimbang. Kami ingin mengajak orang-orang untuk melihat busana sebagai sesuatu yang bisa menuntun kita menuju masa depan yang lebih bijak.”

SukkhaCitta sejak awal berdiri dikenal sebagai label yang mengedepankan keberlanjutan warisan budaya Indonesia. Dengan melibatkan para perajin di berbagai desa di Indonesia, mereka menghadirkan karya yang tidak hanya indah, tetapi juga berdampak positif secara sosial. PERTIWI menjadi bukti konsistensi misi ini.

Lebih dari sekadar perayaan ulang tahun, peluncuran PERTIWI adalah momentum penting dalam era modern, yakni warisan nenek moyang tetap relevan dan bahkan dapat menjadi jawaban atas tantangan masa kini, seperti keberlanjutan lingkungan dan identitas budaya.

Dengan PERTIWI, SukkhaCitta mengajak publik untuk tidak hanya mengenakan busana, tetapi juga merasakan cerita, menghidupkan kembali warisan, dan berjalan bersama menuju masa depan yang lebih seimbang antara manusia dan alam. Inilah wajah baru heritage modern yang bukan sekadar dikenang, tetapi terus hidup dan tumbuh.

Baca Juga: Gerakan Kita Berkebaya Ajak Perempuan Indonesia Lestarikan Wastra Nusantara

(*)

Putri Renata

Penulis:
Editor: Citra Narada Putri