Viral Ibu Hijab Pink di Demo Jakarta, Mengapa Suara Perempuan Penting dalam Aksi Sosial?

Arintha Widya - Sabtu, 30 Agustus 2025
Viral Ibu Hijab Pink di Demo Jakarta, Mengapa Suara Perempuan Penting dalam Aksi Sosial?
Viral Ibu Hijab Pink di Demo Jakarta, Mengapa Suara Perempuan Penting dalam Aksi Sosial? Tribunnews Sultra YouTube

Parapuan.co - Kawan Puan, sebagian besar dari kita tentu masih berduka atas wafatnya pengemudi ojol Affan Kurniawan di tengah situasi demo di pada Kamis (28/8/2025). Namun, kita juga harus ingat tujuan demonstrasi yang sebenarnya, agar kematian Affan tidak sia-sia.

Dalam demo yang sama, seorang ibu berkerudung pink yang aksinya ikut viral di media sosial. Ia beraksi di garda depan, menghadapi barisan pasukan Brimob dengan membawa bendera merah putih, tak gentar walau hujan deras.

Terlepas dari aksi ibu-ibu berhijab pink tersebut, partisipasi perempuan dalam aksi sosial bukan sekadar simbol keterlibatan, melainkan faktor penting dalam membangun keputusan yang lebih adil dan inklusif. UN Women menegaskan bahwa ketika perempuan ikut serta dalam pengambilan keputusan—baik dalam urusan privat maupun publik—hasilnya lebih mencerminkan kebutuhan mereka, keluarga, dan komunitas.

Suara Perempuan = Suara Keluarga dan Komunitas

Selama ini, perempuan sering dilekatkan pada peran domestik: mengurus rumah tangga, anak, dan anggota keluarga. Namun, keterlibatan perempuan dalam ruang publik membawa perspektif yang melampaui ranah pribadi. Misalnya, ketika perempuan berada di meja pengambilan keputusan, prioritas yang muncul lebih dekat dengan kebutuhan nyata masyarakat, seperti kesehatan, pendidikan, dan layanan dasar.

Sebuah riset di India (Duflo & Topalova, 2004) menunjukkan bahwa ketika kursi pemerintahan lokal disediakan bagi perempuan, investasi pada infrastruktur publik meningkat, termasuk pembangunan fasilitas yang langsung bermanfaat bagi perempuan dan keluarga. Hal ini membuktikan bahwa suara perempuan menghadirkan prioritas yang mungkin tidak disuarakan jika hanya laki-laki yang memutuskan.

Tantangan yang Masih Membatasi

Meski ada kemajuan, belum ada negara di dunia yang mencapai kesetaraan penuh. Hambatan bagi suara perempuan datang dari dua arah:

  • Norma sosial yang tidak disadari – aturan tak tertulis tentang peran gender yang sering kali dianggap wajar.
  • Institusi yang kaku – sistem politik, ekonomi, hingga hukum yang masih lebih memihak laki-laki.

UN Women menyoroti bahwa untuk membuka ruang suara perempuan, perlu ada akses yang lebih luas terhadap pendidikan, lapangan kerja, layanan kesehatan, serta dukungan terhadap pengasuhan anak dan keselamatan. Tanpa itu, perempuan tetap terjebak dalam lingkaran kerja domestik yang membatasi partisipasi publik.

Baca Juga: Seberapa Besar Partisipasi Perempuan di Bursa Calon Pemimpin Daerah Pilkada 2024?

Sumber: UN Women
Penulis:
Editor: Arintha Widya