Parapuan.co – Kepergian tragis seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan meninggalkan luka mendalam yang tidak hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi juga mengguncang semua masyarakat Indonesia. Affan tewas setelah terlindas kendaraan rantis milik Brimob ketika aksi demonstrasi berlangsung pada Kamis (28/8).
Salah satu sosok yang menyuarakan kepedihan mendalam atas tragedi ini adalah produser sekaligus sutradara, Mira Lesmana. Lewat akun Instagram pribadinya @mirles, Mira membagikan sebuah karya ilustrasi yang menyayat hati.
/photo/2025/08/29/screenshot-29png-20250829083414.png)
Sketsa tersebut bukan dibuat oleh seniman profesional, melainkan oleh seorang bocah berusia 13 tahun bernama Bolo. Dengan kepolosannya, Bolo mampu menuangkan kesedihan kolektif melalui coretan yang sederhana namun penuh makna.
Dalam sketsa itu, terlihat sosok laki-laki seperti pengendara ojek online (ojol) terkapar dengan darah mengalir deras dari tubuhnya. Sosok tersebut diduga adalah sketsa dari almarhum Affan Kurniawan. Meski hanya berupa goresan kasar di atas kertas, ilustrasi itu menyimpan kekuatan emosional yang sulit diabaikan.
Sketsa itu kemudian diunggah ulang oleh Mira dengan keterangan penuh air mata. “Saya betul-betul kehilangan kata, hanya bisa berurai air mata,” tulisnya. Kalimat singkat tersebut mencerminkan betapa besar rasa kehilangan yang tidak mudah diungkapkan.
Dalam unggahannya, Mira juga menyertakan doa agar rakyat Indonesia diberi kekuatan menghadapi peristiwa pahit semacam ini. “Ya Tuhan, bukakan mata & hati mereka yang berkuasa. Berikan kekuatan & keselamatan kepada rakyat Indonesia untuk terus berjuang agar generasi yang akan datang tidak perlu melihat dan merasakan kepedihan ini. RIP Affan Kurniawan. Kepergianmu tidak boleh sia-sia,” tulisnya lagi.
Suriabumi Santiapuri, akrab disapa Bolo, sang pembuat sketsa, menjadi sorotan karena keberaniannya. Meski baru berusia belasan tahun, ia telah mampu menyalurkan duka dengan visual sebuah gambar
Bagi seorang anak, menghadapi peristiwa tragis semacam ini tentu bukan hal mudah. Namun, alih-alih menyimpannya dalam diam, ia memilih untuk meluapkannya lewat seni.
Ayah Bolo, Trisno, mengizinkan karya putranya dibagikan ulang agar publik bisa melihatnya. Mira pun menyampaikan apresiasi penuh. “Terima kasih Mas Trisno, sudah mengizinkan saya untuk me-repost sketsa pedih putranya, Bolo. Terima kasih Bolo,” tulis Mira.
Reaksi publik pun bermunculan. Ribuan tanda suka dan puluhan komentar membanjiri unggahan Mira. Di antara komentar yang masuk, ada warganet yang mengungkapkan rasa terima kasih kepada Mira karena berani bersuara soal tragedi tersebut. "Bu Miraaaaa terimkasi utk speak up," tulisnya.
Baca Juga: Seperti Najwa Shihab, Bagaimana Hadapi Kedukaan Pasca Suami Meninggal?
Bagi sebagian orang, gambar itu mungkin hanya sekilas tampak seperti coretan kasar. Namun, bagi banyak lainnya, ia menjadi bentuk perlawanan simbolis. Setiap tetes darah yang tergambar di kertas seolah menyuarakan jeritan agar duka ini tidak diabaikan. Dan justru karena lahir dari tangan seorang anak, pesan itu terasa semakin menyentuh.
Mira Lesmana sendiri dikenal sebagai sosok yang kerap menyuarakan isu sosial melalui karya filmnya. Unggahannya kali ini menunjukkan bahwa kepedulian itu bukan sekadar di layar lebar, tetapi juga nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Solidaritas yang meluas ini menunjukkan bahwa seni memiliki kekuatan untuk menggerakkan hati. Tidak perlu teknik tinggi atau medium besar, cukup selembar kertas dan keberanian untuk jujur. Dari situlah lahir sebuah karya yang mampu menembus batas ruang dan menjangkau ribuan hati
Simpati kepergian Affan juga datang dari publik figur lainnya. Beberapa artis, musisi, dan influencer ikut mengucapkan belasungkawa. Ada yang mengirim doa, ada pula yang memberikan bantuan untuk keluarga yang ditinggalkan.
Meski demikian, kepergian Affan juga menyisakan pertanyaan besar tentang keselamatan warga sipil dalam situasi demonstrasi. Publik menuntut agar peristiwa seperti ini tidak lagi terulang. Dalam konteks ini, karya Bolo tidak sekadar gambar emosional, melainkan pengingat keras bagi semua pihak bahwa ada nyawa yang terenggut dengan cara yang tidak seharusnya.
Sketsa sederhana itu pada akhirnya menjelma simbol yang lebih besar dari dirinya sendiri. Ia bukan hanya hasil goresan seorang bocah, tetapi sebuah testimoni visual tentang luka bangsa. Dari garis hitam dan merah, lahir refleksi mendalam bahwa keadilan dan keselamatan rakyat kecil masih rentan terabaikan.
Kini, unggahan Mira Lesmana terus menyebar luas. Bukan hanya sekadar berita, tetapi sebagai pengingat agar masyarakat tidak melupakan Affan Kurniawan dan peristiwa tragis yang merenggut nyawanya. Di tengah derasnya arus informasi, karya sederhana itu hadir sebagai penanda bahwa duka ini nyata dan harus diingat.
Affan memang telah tiada, tetapi jejaknya kini hidup dalam banyak bentuk. Dari barisan pengemudi ojek online yang setia mengiringi kepergiannya, hingga sketsa pedih seorang bocah yang memilih menggambar darah sebagai tanda luka.
Dengan demikian, karya Bolo dan unggahan Mira Lesmana bukan hanya sekadar ekspresi kesedihan, tetapi juga ajakan untuk tidak menutup mata. Kepergian Affan Kurniawan seharusnya menjadi titik balik, agar nyawa rakyat kecil tidak lagi menjadi korban dalam peristiwa yang bisa dicegah.
Baca Juga: Gustika Jusuf Cucu Bung Hatta Pakai Batik Slobog Bermakna Duka saat Upacara di Istana
(*)
Putri Renata