Mengenal Istilah Silent Divorce, Perceraian Pasangan secara Emosional

Saras Bening Sumunar - Sabtu, 30 Agustus 2025
Mengenal apa itu silent divorce.
Mengenal apa itu silent divorce. kitzcorner

Parapuan.co - Pernikahan seringkali dipandang sebagai ikatan suci yang penuh cinta, kebersamaan, dan saling pengertian. Pada kenyataannya, tidak semua pernikahan berakhir bahagia. 

Ada pasangan yang mengalami pertengkaran hebat hingga akhirnya memilih berpisah secara resmi. Tetapi di sisi lain, ada juga pasangan yang tidak pernah benar-benar bertengkar besar, tidak ada pernyataan pisah, tidak ada keputusan hukum, namun secara emosional mereka sudah saling menjauh.

Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah silent divorceApabila kamu ingin tahu lebih dalam tentang silent divorce, berikut PARAPUAN merangkum ulasannya!

Apa Itu Silent Divorce?

Silent divorce adalah kondisi di mana pasangan suami istri tetap tinggal bersama secara fisik, tetap terikat status pernikahan secara hukum, tetapi hubungan emosional, keintiman, bahkan komunikasi yang sehat sudah nyaris tidak ada.

Mereka tidak bertengkar setiap hari, tetapi juga tidak lagi berbagi perasaan, impian, atau kebahagiaan bersama. Hubungan itu seolah berjalan di atas autopilot dan bertahan tapi tanpa jiwa.

"Silent divorce terjadi ketika kamu tidak terpisah secara hukum, tetapi terpisah secara emosional, mental, dan hampir sampai di titik kerenggangan dalam aktivitas seksual," ujar Stepanie Moir, seorang konselor kesehatan mental dikutip dari laman New York Post.

Jika perceraian pada umumnya ditandai dengan konflik terbuka atau keputusan resmi untuk berpisah, silent divorce justru lebih halus dan sulit dikenali. Banyak pasangan yang bahkan tidak menyadari bahwa mereka sudah berada di tahap ini, karena merasa semua masih baik-baik saja hanya karena tidak ada pertengkaran besar.

Padahal, diamnya hubungan bisa jadi tanda bahwa cinta sudah terkikis perlahan. Stephanie juga menambahkan bahwa "Jika kamu tidak berusaha memperbaiki, hal itu (silent divorce) bisa benar-benar menyebabkan keretakan dalam rumah tangga di mana dua orang tidak lagi sejalan."

Baca Juga: 3 Cara Perempuan Menghadapi Perceraian dengan Tegar dan Kuat

Mengapa Silent Divorce Bisa Terjadi?

Ada beberapa faktor yang bisa memicu silent divorce, di antaranya:

Komunikasi yang terputus: pasangan tidak lagi berbicara dari hati ke hati, hanya sekadar membicarakan hal-hal teknis seperti urusan anak, keuangan, atau pekerjaan rumah.

Kehilangan keintiman: baik secara fisik maupun emosional, sentuhan kasih sayang dan perhatian perlahan menghilang.

Rutinitas yang monoton: kesibukan membuat pasangan terjebak dalam pola hidup yang membosankan tanpa lagi menyisakan ruang untuk kebersamaan.

Penghindaran konflik: bukannya menyelesaikan masalah, pasangan memilih diam dan membiarkannya menumpuk tanpa penyelesaian.

Kesenjangan nilai atau tujuan hidup: pasangan tidak lagi berjalan searah, sehingga hubungan terasa semakin jauh meski tetap berada di atap yang sama.

Bagaimana Dampak Silent Divorce?

Baca Juga: Perempuan Harus Aware, Inilah 4 Faktor yang Kerap Menjadi Alasan Perceraian

Silent divorce sering kali lebih berbahaya daripada konflik terbuka, karena kondisi ini menciptakan rasa kesepian yang mendalam. Kamu mungkin merasa memiliki pasangan secara status, tetapi sebenarnya hidup sendirian secara emosional. Dampaknya bisa berupa:

  • Hilangnya rasa bahagia dalam pernikahan.

  • Munculnya rasa asing terhadap pasangan sendiri.

  • Anak-anak merasakan suasana rumah yang dingin meskipun tidak ada pertengkaran.

  • Terbuka peluang bagi perselingkuhan emosional atau fisik karena kebutuhan afeksi tidak terpenuhi.

Untuk diketahui, fenomena silent divorce sebenarnya menjadi cermin bahwa pernikahan tidak hanya bisa runtuh karena pertengkaran, tetapi juga karena keheningan yang berkepanjangan.

Banyak pasangan tidak menyadari bahwa diam yang terlalu lama bisa menjadi racun bagi cinta. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus menjaga komunikasi, memelihara keintiman, dan menyadari bahwa pernikahan bukan hanya tentang bertahan secara fisik, tetapi juga tumbuh bersama secara emosional.

Baca Juga: Waspada 7 Red Flag Pernikahan yang Bisa Berujung pada Perceraian

(*)

Sumber: New York Post
Penulis:
Editor: Kinanti Nuke Mahardini