Meskipun terlihat seperti sekadar perubahan fisik, pubertas dini bisa menimbulkan dampak serius, baik secara fisik maupun psikologis. Berikut uraian mengenai dampak pubertas dini pada anak seperti dirangkum dari Childmind:
1. Risiko Kesehatan Fisik
- Anak dengan pubertas dini cenderung memiliki tinggi badan lebih pendek karena tulang mereka lebih cepat menutup.
- Meningkatkan risiko penyakit kronis di usia dewasa, seperti penyakit jantung, diabetes, dan kanker.
2. Dampak Psikologis dan Sosial
- Anak perempuan yang matang lebih cepat sering mengalami tekanan psikologis, seperti depresi, kecemasan, hingga gangguan makan.
- Anak laki-laki bisa menunjukkan perilaku berisiko, seperti konsumsi alkohol, rokok, atau pergaulan yang lebih cepat terlibat dalam perilaku seksual.
- Anak yang mengalami pubertas dini sering kali merasa berbeda dari teman sebayanya. Mereka bisa jadi korban perundungan atau salah menilai diri sendiri karena penampilan fisik yang lebih dewasa dibandingkan usia emosionalnya.
Psikolog mencatat bahwa perbedaan antara penampilan fisik yang lebih dewasa dengan kematangan emosional yang masih anak-anak menjadi sumber stres utama. Akibatnya, anak bisa merasa tidak percaya diri, kesulitan menyesuaikan diri, hingga terjebak dalam pergaulan yang tidak sehat.
Dukungan untuk Orang Tua dan Masyarakat
Meskipun ASI eksklusif terbukti bermanfaat, tidak semua ibu bisa menyusui dengan mudah. Faktor seperti keterbatasan cuti melahirkan, kurangnya ruang laktasi di tempat kerja, hingga kendala produksi ASI membuat sebagian ibu beralih ke susu formula.
Para ahli menekankan bahwa dukungan struktural dari pemerintah, lingkungan kerja, dan masyarakat sangat penting agar ibu lebih mudah memberikan ASI. Selain menyusui, orang tua juga dapat membantu menekan risiko pubertas dini dengan cara:
- Membatasi konsumsi makanan cepat saji dan minuman manis.
- Mengajak anak beraktivitas fisik secara rutin.
- Membatasi waktu layar (gadget/TV) yang berlebihan.
- Mengurangi paparan bahan kimia berbahaya yang dapat mengganggu hormon (endocrine disruptors).
ASI eksklusif terbukti memiliki peran besar dalam menurunkan risiko pubertas dini melalui pencegahan obesitas dan dukungan tumbuh kembang yang optimal. Pubertas dini bukan hanya soal tubuh yang lebih cepat dewasa, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental, sosial, bahkan kualitas hidup anak di masa depan.
Dengan pemahaman ini, penting bagi orang tua untuk berupaya memberikan ASI eksklusif, sekaligus didukung oleh kebijakan dan lingkungan yang ramah ibu menyusui. Karena pada akhirnya, mencegah pubertas dini berarti memberikan anak kesempatan untuk tumbuh sesuai usianya — sehat, bahagia, dan siap menghadapi masa depan.
Baca Juga: Mengapa Banyak Ibu Berhenti Beri ASI Eksklusif? Kuncinya Mendukung, Bukan Menghakimi
(*)