Ajeng Patria Meilisa

Kandidat doktor Universitas Birmingham, UK. Sedang melaksanakan  riset komunikasi keluarga dan perkembangan anak. Berharap dapat mengokohkan peran keluarga dalam masyarakat.

Technoference: Saat Gadget Menginterupsi Komunikasi Keluarga

Ajeng Patria Meilisa Minggu, 13 Agustus 2023
Technoference mampu membuat komunikasi keluarga jadi terganggu.
Technoference mampu membuat komunikasi keluarga jadi terganggu. pixelfit

Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dari penulis.

Hal yang lebih ditekankan justru adalah kesadaran orang tua itu sendiri.

Mereka biasanya mempertimbangkan matang-matang sebelum memberikan gawai pada anak-anaknya.

Pemberian gawai tersebut bukan didasarkan pada alasan hiburan semata (agar anak teralihkan, sibuk menggunakan ponsel dan tidak banyak meminta perhatian orang tua), melainkan alasan keamanan.

Justru bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas relasi orang tua dengan anak.

Ketika anak memakai ponsel sambil tetap dalam pantauan, orangtua justru bisa selalu up to date dengan perkembangan keadaan buah hatinya.

Orang tua bisa terlibat dalam perbincangan yang asyik dengan anak-anaknya.

Orang tua tidak perlu melarang anaknya bermain media sosial selama umurnya sudah cukup.

Justru orang tua sebaiknya ikut bermain media sosial dan mengomentari posting yang dibuat anak, sehingga anak bisa melihat orangtuanya turut terlibat dan apresiatif terhadap apa yang mereka lakukan.

Baca Juga: Ini yang Perlu Orang Tua Perhatikan Terkait Pengasuhan Anak dan Penggunan Gadget

Pada dasarnya, penggunaan ponsel di masa sekarang nyaris tidak bisa ditolak, termasuk bagi anak-anak.

Hal tersebut dibenarkan oleh pengamat komunikasi digital Universitas Indonesia, Firman Kurniawan.

Firman menyatakan bahwa hal tersebut karena fungsinya sebagai pintu masuk pengetahuan.

Namun perlu diwaspadai bahwa pengguna internet, khususnya anak-anak, rentan terhadap berbagai bentuk kejahatan hingga kekerasan.

Atas dasar itu, Firman tidak menganjurkan untuk menolak gawai dan internet, selama terdapat pendampingan dari orang tua secara proporsional.

Terlepas dari hal itu semua, faktor terpenting tetaplah apresiasi di dunia nyata. Anak harus dibuat nyaman di dunia tatap muka, sehingga mereka tidak menganggap penting untuk terus terhubung dengan ponselnya.

Caranya adalah dengan lebih banyak mendengarkan, bersikap atentif, dan perhatian terhadap kebutuhan anak.

Tentu orang tua, dalam melayani pembicaraan dengan anak, juga tidak sambil bermain ponsel! Hal ini akan membuat anak meniru apa yang dilakukan oleh ayah dan ibunya.

Letakkan ponsel saat berbicara dengan anak, dan bahkan jangan terlalu sering terlihat memainkan ponsel di depan mereka.

Dengan demikian, technoference memang merupakan hal yang tak bisa terhindarkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, tapi tetap bisa menjadi hal positif, selama dikelola dengan baik atas kesadaran.

Perhatian lebih dan turut terlibat dalam penggunaan gawai akan membuat technoference justru menjadi penyegaran dalam relasi orang tua dan anak. (*)