Defanya Aprechita Tiur, S.E

Sebagai istri dan perencana keuangan keluarga, Anya berharap bisa membantu pasangan suami istri mewujudkan mimpi mereka di masa depan.

Perempuan Masa Kini, Ayo Merdeka dari Identitas Generasi Sandwich

Defanya Aprechita Tiur, S.E Jumat, 9 September 2022
Perempuan generasi sandwich, saatnya bebas dari identitasmu dan merdeka secara finansial.
Perempuan generasi sandwich, saatnya bebas dari identitasmu dan merdeka secara finansial. LinaWee

Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dari penulis.

Parapuan.co - Kawan Puan, siapa yang saat ini lagi merasa uring-uringan karena bingung keuangan enggak cukup?

Mungkin lagi bingung bagaimana membiayai keluarga seperti orang tua dan adik-adik yang masih sekolah?

Problema menjadi generasi sandwich tidak akan pernah putus jika bukan kita yang berusaha untuk memutuskannya.

Lalu, bagaimana cara keluar dari ikatan generasi sandwich? Kita bahas bersama ya Kawan Puan!

Persentase Generasi Sandwich

Meskipun zaman sudah sangat modern, nyatanya ikatan generasi sandwich belum juga bisa dihilangkan.

Masih banyak orang-orang yang hingga saat ini harus mencari penghasilan tambahan demi bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Baca Juga: Puan Talks: Kata Pakar Soal Menerapkan Kebebasan Finansial dalam Keluarga 

Melansir dari sumber berita, data hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 menunjukkan bahwa sumber pembiayaan rumah tangga para lansia paling besar berasal dari anggota rumah tangga yang bekerja, yaitu sebanyak 77,82%.

Masih dari sumber yang sama, persentase terbesar tempat tinggal para lansia adalah dengan tinggal bersama anggota dari tiga level generasi.

Tinggal dengan tiga generasi yang dimaksud adalah tinggal dengan anak atau menantu beserta dengan cucu dalam satu rumah.

Sounds familiar?

Hasil survei tersebut tentu belum bisa menggambarkan jumlah generasi sandwich di Indonesia karena anggota keluarga yang ditanggung oleh generasi sandwich bukan hanya orang tua saja, tapi bisa juga anak, kakak, atau adik.

Namun hasil ini bisa menjadi gambaran bahwa generasi sandwich paling banyak adalah menopang orang tua.

Perempuan Generasi Sandwich dan Mimpinya

Nyatanya, Kawan Puan, ada begitu banyak orang yang merasa harus menghentikan mimpinya ketika menyadari dirinya termasuk dalam generasi sandwich. Termasuk perempuan. 

Contohnya adalah selebritas Putri Marino yang harus mengurus orang tua dan juga keluarga kecilnya.

Setelah orang tuanya pensiun, Putri Marino masih harus merawat dan mengurus mereka. Padahal Putri sendiri sudah berkeluarga dan memiliki anak.

Tidak hanya itu, Putri Marino juga sempat lupa akan mimpi dan cita-citanya.

Namun berkat dukungan dari keluarga dan sahabat, Putri Marino yang semula merasa menjadi generasi sandwich adalah beban, kini bisa menjalani perannya dengan lebih ringan karena adanya rasa cinta terhadap orang tua dan keluarga.

Dengan mengatur keuangan secara bijak, serta memiliki keyakinan yang benar untuk keluargamu, maka Kawan Pan pun bisa menghadapi kondisi sebagai generasi sandwich dengan lebih baik.

Baca Juga: Ini 6 Cara Agar Terlepas dari Jeratan Generasi Sandwich, Apa Saja? 

Dampak Sebagai Generasi Sandwich 

Dampak pertama yang mungkin dirasakan adalah level stres yang tinggi.

Ketika kita harus menafkahi generasi di atas kita (orang tua) dan generasi di bawah kita (anak) atau yang setara dengan kita (adik atau kakak), maka akan banyak kebutuhan yang harus dipenuhi.

Jika pendapatan kita dan dana yang dimiliki tidak mencukupi, maka stres mulai datang.

Dampak lain yang bisa dialami adalah gampang merasa khawatir.

Khawatir karena kebutuhan yang harus dipenuhi terus bertambah, khawatir pula akan masa depan. Khawatir dengan biaya sekolah anak, menabung untuk dana hari tua, bagaimana pula jika orang tua jatuh sakit.

Dampak lainnya adalah mudah kelelahan fisik, karena harus mencari penghasilan tambahan.

Jam kerja yang padat, tingkat stres yang tinggi, ditambah minimnya waktu untuk olahraga membuat generasi sandwich kurang memperhatikan kesehatannya.

Di perempuan, kita biasanya jadi sulit mengontrol emosi, apalagi kalau sudah mendekati waktu haid. Imbasnya akan dirasakan oleh orang sekitar seperti orang tua, suami maupun anak.

Baca Juga: Generasi Sandwich Wajib Melek Literasi Keuangan, Ini Alasannya

Efek Buruk Itu Bisa Dikurangi! 

Jika kita harus mengurus orang tua, adik, atau anggota keluarga lainnya bersamaan dengan keluarga kecil kita, yang perlu Anda miliki pertama kali adalah kepercayaan.

Percaya bahwa Anda akan dimampukan untuk bisa mengurus mereka.

Tentu akan ada pro dan kontra baik itu dari dalam diri kita sendiri maupun dari luar.

Contoh pro dan kontra dari diri sendiri seperti kita ingin bisa melakukan banyak hal dengan pendapatan kita, sedangkan hati yang berkata tidak tega jika tidak mengurus keluarga sendiri apalagi orang tua yang sudah membesarkan kita.

Contoh pro dan kontra dari luar adalah tidak adanya dukungan dari pasangan untuk bisa support orang tua secara finansial.

Hal ini tentu akan menambah beban pikiran kita, meningkatkan stres, yang berujung pada sakit penyakit. 

Berikut beberapa hal yang bisa Kawan Puan lakukan untuk mengurangi dampak buruk sebagai generasi sandwich.

1. Lakukan perencanaan keuangan dengan cara budgeting.

Hal pertama yang sebaiknya Kawan Puan lakukan adalah melakukan budgeting untuk setiap pengeluaran.

Ketahui berapa dan apa saja pengeluaran setiap anggota keluarga yang Anda tanggung setiap bulannya, dan mulai lakukan budgeting.

Hal ini akan sangat membantu supaya keuangan Anda tidak laps dan berakibat habis sebelum tanggal gajian datang.

Jika sudah melakukan budgeting, kontrol setiap pengeluarannya. Jangan lupa juga untuk melakukan evaluasi. Evaluasi ini bisa dilakukan per minggu, per 2 minggu, atau di akhir bulan, agar Anda bisa melihat apakah sistem budgeting Anda sudah sesuai atau belum.

Apabila Kawan Puan merasa kesulitan dalam merencanakan budgeting, Anda bisa menggunakan jasa perencana keuangan untuk membantu Kawan Puan memiliki strategi keuangan yang maksimal.

2. Miliki komunikasi yang baik dengan pasangan atau orang sekitar.

Setelah melakukan budgeting, saatnya Kawan Puan bisa mendiskusikannya dengan pasangan dan orang-orang yang akan Anda tanggung seperti orang tua.

Utarakan rencana yang sudah Anda buat dengan perencanaan keuangan, dan terimalah setiap input yang diberikan.

Jika Kawan Puan mengalami kendala dalam proses komunikasi, Kawan Puan bisa meminta tolong kepada perencana keuangan Anda untuk bisa membantu menyampaikan strategi yang disepakati.

Baca Juga: 5 Hal yang Perlu Perempuan Ketahui dalam Memperlakukan Pasangannya 

3. Utarakan jika sudah merasa tidak mampu.

It's okay to not be okay!

Jika Kawan Puan mendapati bahwa kebutuhan anggota keluarga yang harus ditanggung melebihi bujet, utarakan saja sejujurnya.

Solusi terbaik dalam hal ini adalah menambah pendapatan. Cobalah untuk mencari kesempatan-kesempatan yang bisa kamu lakukan dan tentunya bisa menghasilkan.

Kawan Puan bisa mulai dari kemampuan yang dimiliki. Apa yang kamu sangat kuasai yang kira-kira jika ditawarkan ke pasar bisa sangat menghasilkan?

Mungkin Kawan Puan andal memasak, maka merintis bisnis catering kecil jadi kesempatan yang layak dicoba. Siapa tahu bisa berkembang.

Punya kertarikan di media sosial? Kawan Puan mungkin bisa mulai merintis karier sebagai vlogger.

Jika dilakukan dengan senang, harapannya Kawan Puan bisa sangat menikmati pekerjaan sampingan tersebut tanpa menambah beban stres.

Jangan lupa jika Kawan Puan sudah memiliki pasangan, coba komunikasikan kepadanya mengenai rencana melakukan pekerjaan tambahan ini.

4. Memikirkan solusi bersama dengan pasangan atau anggota keluarga.

Kawan Puan juga bisa mendiskusikan pendapatan tambahan tersebut dengan orang-orang yang ditanggung, seperti orang tua, adik, atau saudara lain yang harus dinafkahi. 

Harapannya beban ini tidak menjadi beban Kawan Puan seorang, tetapi beban bersama dalam satu keluarga.

Cobalah melakukan brainstorming dengan memunculkan ide-ide usaha yang mungkin bisa Anda dan anggota keluarga Anda kerjakan bersama.

Setelah itu, berulah Kawan Puan merencanakan keuangan masa tua dengan memiliki dana hari tua.

Untuk ini, kamu bisa mulai berencana menabung setiap bulan dengan target tertentu. Kalau sudah tercapai, masukkan dana tersebut pada investasi yang aman dan cocok untuk tujuan keuangan dana hari tua.

Selain investasi, Kawan Puan bisa mengikuti program khusus dana pensiun seperti DPLK dan DPPK kalau perusahanmu memilikinya. 

Baca Juga: 5 Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Pensiun agar Merdeka di Hari Tua

Perempuan, Saatnya Merdeka! 

Kawan Puan, merdeka dari identitas sebagai generasi sandwich bukan berarti kita menelantarkan anggota keluarga dan bersikap tidak mau tahu.

Merdeka di sini artinya kita tahu bagaimana agar tetap bisa menikmati setiap rejeki yang sudah Tuhan berikan, untuk lalu bisa diberikan kembali ke orang-orang di sekitar kita.

Semoga apa yang saya sampaikan bisa sangat membantu Kawan Puan di luar sana yang saat ini sedang berjuang memerdekakan dirinya sebagai generasi sandwich! Semangat, dan terima kasih! (*)