Melihat Wacana WFH untuk Hemat BBM dari Sudut Pandang Ibu Bekerja

Saras Bening Sumunar - Senin, 30 Maret 2026
Melihat efektivitas WFH bagi ibu bekerja.
Melihat efektivitas WFH bagi ibu bekerja. Wiphop Sathawirawong

Parapuan.co - Belakangan, wacana terkait penerapan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) kembali mencuat di Indonesia. Bukan karena pandemi, wacana WFH ini merupakan strategi penghematan energi di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah.

Pemerintah melihat WFH sebagai salah satu opsi untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), terutama dari sektor transportasi harian pekerja. Walau begitu, rencana ini masih terus dimatangkan agar tidak mengganggu produktivitas kerja maupun layanan publik.

"Teknisnya sedang akan disiapkan, karena ini diharapkan juga tidak hanya ASN (aparatur sipil negara) tetapi juga swasta, dan juga pemda-pemda," ujar Airlangga dikutip dari Antara via Kompas.TV.

"Nah, ini semuanya kita sedang siapkan lagi, nanti sesudah konsepnya matang, kita akan segera informasikan ke publik lebih detail," lanjutnya. 

Kebijakan ini direncanakan mulai berlaku setelah Lebaran 2026. Meski begitu, tidak semua sektor akan menerapkannya. ASN yang bekerja di layanan publik dipastikan tetap bekerja seperti biasa demi menjaga pelayanan masyarakat.

Dari sisi perhitungan awal, pemerintah menilai WFH memiliki dampak signifikan terhadap penghematan energi. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut bahwa kebijakan ini berpotensi mengurangi konsumsi BBM secara cukup besar.

"Ada hitungan kasar sekali, (WFH bisa menghemat) seperlima, kira-kira 20 persen (penggunaan BBM)," kata Purbaya.

Ia juga mengusulkan hari Jumat sebagai opsi pelaksanaan WFH. Dengan demikian, masyarakat akan memiliki akhir pekan lebih panjang, yang dinilai dapat mendorong aktivitas domestik, termasuk sektor pariwisata.

Meski begitu, Purbaya mengingatkan bahwa WFH tidak bisa diterapkan terlalu sering karena tidak semua pekerjaan efektif dilakukan dari rumah.

Baca Juga: Wacana WFH untuk Hemat BBM, Pemerintah Siapkan Skema 1 Hari Kerja dari Rumah

Efektifkan WFH untuk Ibu Bekerja?

Terkait wacana WFH untuk efisiensi bahan bakar, muncul pertanyaan terkait efektivitas WFH untuk ibu bekerja. 

Menurut laman Forbes, salah satu keunggulan utama WFH adalah fleksibilitas waktu yang memberimu kesempatan untuk mengatur jadwal kerja dan kehidupan keluarga secara lebih dinamis. Kamu bisa menyelesaikan pekerjaan sambil tetap mengawasi anak, mengurus rumah, bahkan beristirahat sejenak tanpa tekanan suasana kantor.

Dalam konteks ini, WFH terasa sangat membantu karena kamu tidak perlu menghabiskan waktu di perjalanan dan bisa memanfaatkannya untuk hal yang lebih produktif. Meski begitu, fleksibilitas ini juga bisa menjadi pedang bermata dua.

Ketika batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kabur, kamu justru berpotensi bekerja lebih lama tanpa sadar. Banyak ibu bekerja yang akhirnya merasa selalu standby karena kantor seolah berpindah ke rumah, sehingga waktu istirahat dan kualitas interaksi keluarga bisa terganggu.

"Pengaburan batas antara ruang profesional dan pribadi telah menyebabkan banyak perempuan bekerja lebih lama dan tetap tidak menyelesaikan daftar tugas mereka," ujar dr. Regina Lark, penulis buku Emotional Labor: Why A Woman's Work is Never Done and What To Do About It.

Peran Ganda yang Semakin Kompleks

WFH sering kali membuat batas antara peran profesional dan peran sebagai ibu menjadi semakin tipis. Kamu tidak hanya dituntut menyelesaikan pekerjaan kantor dengan baik, tetapi juga tetap menjalankan tanggung jawab domestik tanpa jeda yang jelas.

Hal ini bisa memicu kelelahan fisik dan emosional karena kamu seolah bekerja dalam dua shift sekaligus, tanpa benar-benar memiliki waktu istirahat yang berkualitas.

Di sinilah pentingnya dukungan dari pasangan atau anggota keluarga lain. Tanpa pembagian peran yang adil, WFH bisa menjadi beban tambahan alih-alih solusi. Efektivitas WFH bagi ibu bekerja tidak hanya ditentukan oleh sistem kerja itu sendiri, tetapi juga oleh lingkungan sosial di sekitarmu.

Baca Juga: Lady Boss Halodoc, Fibriyani Elastria Bahas Rasa Bersalah pada Ibu Bekerja

(*)

Sumber: Forbes,Kompas.tv
Penulis:
Editor: Kinanti Nuke Mahardini