Sontak, unggahan itu memantik reaksi warganet. Ada yang menyambut positif langkah Rachel, menilai keberaniannya patut diapresiasi meski terlambat.
Di kolom komentar, sejumlah warganet menyatakan simpati. "Makasih Buna sudah mau jujur, lebih baik terlambat daripada diam," tulis seorang warganet.
Namun, komentar akun lain bernada sinis juga bermunculan, seperti "Kali ini gak ada bayarannya kali ya, makanya speak up."
"Makanya cel jangan mikirin endorse doang," tulis akun warganet lainnya.
Kini, setelah satu tahun berlalu, Rachel seakan menyadari bahwa popularitas dan pengaruhnya dulu ikut menanamkan harapan yang kini terasa pahit.
Kritik dan penyesalan dari kalangan influencer tak bisa dipandang remeh. Dengan jumlah pengikut jutaan, suara mereka berpotensi memperkuat gelombang kekecewaan publik terhadap pemerintah.
Kasus tewasnya Affan Kurniawan menjadi titik balik yang tidak bisa didiamkan. Rachel sadar bahwa penyesalannya tidak akan mengubah keadaan, namun setidaknya menjadi bentuk pertanggungjawaban moral.
Walaupun pendapat warganet masih terbelah, tetapi tidak menutup kemungkinan sebagian lainnya menilai sikap Rachel hanya sekadar "cari aman" setelah melihat situasi memburuk.
Terlepas dari pro kontra tersebut, suara Rachel menambah daftar panjang kekecewaan publik terhadap jalannya pemerintahan. Situasi ini terlihat jelas di saat masyarakat tengah berduka atas jatuhnya korban jiwa, suara-suara penyesalan publik figur menjadi sorotan besar.
Namun keberanian mengaku salah telah membuka perbincangan baru, yakni seberapa besar tanggung jawab moral para figur publik atas pilihan politik yang dulu mereka promosikan.
Kini, publik akan menunggu apakah penyesalan Rachel Vennya hanya berhenti di sini, ataukah akan berlanjut dalam mengawal keadilan sosial yang ia serukan?
Baca Juga: Megawati Soekarnoputri Jadi Bagian dari 4 Tokoh Reformasi, Apa Peran Politiknya?
(*)
Putri Renata