Dr.  Firman Kurniawan S.

Pemerhati budaya dan komunikasi digital, pendiri LITEROS.org, dan penulis buku Digital Dilemma

Mereka yang Menciptakan dan Diuntungkan oleh Rasa Insecure Perempuan

Dr. Firman Kurniawan S. Senin, 2 Januari 2023
Rasa insecure pada perempuan disebabkan ketidaknyamanan atas tubuh dan hidupnya. Bagaimana cara mengatasinya?
Rasa insecure pada perempuan disebabkan ketidaknyamanan atas tubuh dan hidupnya. Bagaimana cara mengatasinya? Phiromya Intawongpan

Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dari penulis.

Soal bagaimana perempuan mengimpikan pencapaian prestasi sekolah maupun kiprahnya di tempat kerja, jarang disaksikan Megadiana. Tentu ini bukan soal algoritma belaka.

Yang kerap dikonsumsi Megadiana, seakan standar untuk jadi perempuan seutuhnya.

Standar yang jika ditelaah lebih dalam, adalah ketaknyamanan untuk memiliki tubuh dalam tafsirnya sendiri. Termasuk memilih jadi diri apa adanya.

Baca Juga: Rasa Insecure Perempuan Mendorong Shandy Purnamasari untuk Membuat Produk Perawatan MS Glow

Seluruhnya adalah keadaan yang menimbulkan “insecure”. Kosakata para pengguna media sosial yang beredar intensif di tengah pergaulan Gen Z. (Sebetulnya, kata yang tepat digunakan adalah insecurity. Tapi para Gen Z memang lebih sering menyebutnya "insecure".)

Konsep “insecure” menjelaskan tentang ketidaknyamanan mental yang dialami seseorang.

Leslie Backer-Phelps, PhD., 2016 dalam artikelnya yang dimuat di Psychology Today dengan judul, “Social Media Fosters Insecurity: How to Overcome It”, menguraikan kemunculan keadaan "insecure" ini di kalangan pengguna media sosial.

Menurutnya, melalui media sosial seseorang intensif terpapar dengan kehidupan orang lain. Seluruhnya ditampilkan dalam versi yang sempurna.

Melalui Youtube akan ditonton bakat orang yang luar biasa, juga dalam penampilan yang di atas rata-rata. Demikian juga dengan media sosial yang lain.

Membandingkan adalah mekanisme wajar yang kemudian hadir sebagai kelanjutannya.